HOME|DOWNLOADS|NEWS&LINKS|PUBLICATIONS|BLOG|
APIPUDIN,S.Th.I.,MA.Hum

Position:Dosen
Contact Address:Margonda Raya No. 100
Phone:08158735896/082113901578
Fax:
Email:apip1977@gmail.com
apipudin@staff.gunadarma.ac.id
Homepage:http://apipudin.staff.gunadarma.ac.id/

Current Activity :
Pendidikan Formal:

s-2 Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Kajian Islam Konsentrasi Tafsir Hadis

s-1, UIN Jakarta. Fak. Ushuluddin dan Fisafat Program Studi Tafsir Hadis

Non Formal:
Pondok Pesantren Riaduthalibin, Banten

Kegiatan di luar kampus
Kajian Islam dari Kantor ke Kantor
Pendiri Majelis Taklim al-Munashahah sekaligus pengajar Tafsir

Pengalaman berbisnis
Gema Isnani Press
Prudential

Research Interest :
al-Qur'an Sebagai Penyembuh Penyakit
Kesimpulan besar penelitian ini adalah al-Qur’an sebagai
penyembuh beragam penyakit fisik dan psikis (bio, psio, sosio,
spiritual) difahami dari kata shifa’ dan isyarat ayat yang ada dalam
al-Qur’an. Salah satu tokoh yang berkomentar tentang ini adalah
Muhammad Haqqi al-Nazili.
Penelitian ini ada kesamaan dengan peneliti sebelumnya,
walaupun dalam angka tahun dan beberapa hal lainnya sedikit
berbeda. Di antaranya; Abduldaem al-Kaheel, Power of al-Qur’an
Healing. Menurutnya, isyarat penyembuhan dengan al-Qur’an
adalah diketemukannya ayat tentang diciptakannya pendengaran
terlebih dahulu dari pada yang lainnya, dan ternyata telinga
merupakan organ vital untuk dijadikan sebuah media
penyembuhan, karena otak dipengaruhi oleh suara yang masuk
lewat telinga yang akan ditransfer ke seluruh anggota tubuh.
Selanjutnya pendapat A. Abdurrochman, S. Perdana dan S.
Andhika, Muratal al-Qur’an: Alternatif Terapi Suara Baru.
Stimulan al-Qur’an dapat dijadikan sebagai terapi relaksasi bahkan
lebih baik dibandingkan dengan stimulan terapi karena stimulan al-
Qur’an dapat memunculkan gelombang delta sebesar 63,11%
sedangkan kenaikan gelombang delta mencapai persentase
tertinggi sebesar 1.057%. Stimulan Al-Qur’an ini sering
memunculkan gelombang delta di daerah frontal dan central baik
sebelah kanan maupun kiri otak. Begitu juga dengan Athoullah,
Tesis Makna Bismillah dalam Perspektif Hikmah, yang
menyatakan bahwa basmalah selain memiliki makna teks juga
mempuayai makna isyarat kekuatan magis, jika diamalkan sesuai
aturan yang telah ditentukan. Mohammad Daudah menyatakan
dalam sebuah karyanyanya berjudul “Energi Penyembuh dalam a-
Qur’an antara sain dan keyakinan” menurutnya suara al-Qur’an
dapat menghentikan pergerakan virus dan kuman, dan pada waktu
yang bersamaan meningkatkan sel-sel sehat dan membangkitkan
program yang terkacaukan di dalamnya agar siap bertempur
melawan virus dan kuman. Tambahnya, bacaan al-Qur’an memiliki
efek yang sangat luar biasa terhadap sel-sel dan dapat
mengembalikan keseimbangan.
vi
Kesimpulan penelitian ini bersilang pendapat dengan
Muhammad Quraish Shihab, Ciputat: Lentera Hati; 2000 volume 7,
yang mengatakan bahwa kata shifa’ yang ada di dalam al-Qur’an
bermakna penyembuh penyakit psikis. Menurutnya, hadis-hadis
yang dijadikan dasar pijakan dalam menafsirkan kata shifa’ adalah
hadis yang diperselisihkan nilai dan maknanya. Tambahnya jika
hadis itu benar, maka yang dimaksud bukanlah penyakit jasmani,
tetapi ia adalah penyakit ruhani/jiwa yang berdampak pada
jasmani. Ia merupakan psikosomatik. Begitu juga pendapat Shalah
Abdul Fattah al-Kholidiy, Dasar-dasar Untuk Memahami al-
Qur’an, menurutnya al-Qur’an kitab petunjuk, bukan kitab magis.
Selanjutnya pendapat Yusuf Qarad}awi, Kai>fa Nata’amalu ma’a al-
Qur’a>n, mengatakan al-Qur’a>n bukan kitab filsafat, bukan juga
kitab penyembuhan fisik melainkan psikis, andai saja al-Qur’an
sebagai penyembuh penyakit fisik, maka medis tidak berarti dalam
peradaban Islam.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kata shifa’ yang ada dalam
al-Qur’an berbentuk umum (nakirah) dan banyak ulama tafsir
menafsirkan sebagai penyembuh fisik dan psikis. Penyembuhan
penyakit fisik dan pskis dengan al-Qur’an selain dipahami dari kata
shifa’ juga didapatkan dari isyarat-isayarat ayat, dan hadis yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Ubaid, Abu Daud,
Tirmizi, Nasa’i, IbnMajah, IbnJarir, al-Hakim dan Baihaqi tentang
penyembuhan bisa kala dengan surat al-Fatihah.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library
reseach). Sumber primer penelitian ini adalah kitab Khazinat al-
Asrar, karya Muhammad Haqqi al-Nazili, sedangkan sumber
skunder berupa kitab, buku, journal, dan artikel yang ada korelasi
langsung atau tidak langsung dengan topik bahasan yang dimaksud.
Sifat penelitian ini adalah deskriftik-analisis.
Diterbitkan di YPM

FILSAFAT ISLAM
APIPUDIN, MA.Hum

Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam, tidak puas dengan sesuatu yang nampak (eksistensi), melainkan berusaha untuk mengetahui wujud asli dari yang nampak (esensi). Seseorang yang berfikir mendalam tentang meja, tidak puas hanya dengan eksistensi atau kegunaan meja, tetapi berusaha untuk mengetahui esensi dari meja itu. Demikian juga dengan filsafat Islam. Filsafat Islam dapat berarti berfikir mendalam tentang Islam. Seseorang tidak puas hanya melihat perintah atau larang dalam Islam, tetapi akan berusaha mencari jawaban dari hal tersebut.
Objek filsafat Islam tidak terlepas dari ke-Tuhanan, ke-Nabian, dan semua yang tersinari Islam. Dengan berusaha memahami esensi dari ke-Tuhan, ke-Nabian, dan semua yang tersinari Islam akan melahirkan satu pemahaman Islam yang mendalam. Jika seseorang sudah manfu memahami Islam secara mendalam satu indikasi orang itu akan dijadikan orang yang selamat. Bukankah Rasul bersabda (من يرد الله به خيرا يفقه فى الدين) siapa yang akan dijadikan orang yang selamat maka difahamkan dalam agama. Di sisi lain orang yang menyakini Islam atas pemahaman akan istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh (kafah).
Islam juga sangat menghargai orang yang berfikir. Bahkan dalam teks ke-agamaan Islam dikatakan berfikir sesaat lebih baik dari pada ibadah 70 tahun (تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة). Dengan berfikir manusia bisa menembuh masa yang akan datang, atau belum terjadi. Bukankah kita sering menemukan pemikiran-pemikiran ulama terdahulu pada abad silam. Mereka berfikir pada masanya tentang Islam yang kemungkinan-kemungkinan terjadi pada masa yang akan datang. Dengn demikian ibadah mereka sudah melampaui puluhan tahun yang akan datang. Ulama-ulama sekarang dapat menetapkan sebuah hukum dalam Islam, sudah barang tentu pijakannya pada ulama masa silam. Yu kita merenung sesaat! Pernahkan kita jumpai karya ulama terdahulu yang usang tidak kepake pada saat-saat sekarang? Sudah barang tentu tidak. Ini satu bukti bahwa berfikir mendalam dan lebih jauh lebih baik dibandingkan dengan ibadah-ibadah sunah.
Pernyatan-pernytaan di atas menyadarkan kita pada sebuah pemahaman, bahwa betapa pentingnya berfilsafat dalam Islam. Dengan kata lain sangatlah penting belajar filsafat Islam. Kajian-kajian Islam secara mendalam menggiring manusia (umat islam) pada pemhaman “butuh Islam”. Dengan demikian segala perintah dan larangan Islam akan dipatuhinya, karena merasa butuh islam, bukan segala perintah dan larangan disikapi sebuah beban.
Hal yang harus digaris bawahi, bahwa filsafat Islam itu lebih menitik beratkan pada aksiologi, bukan ontologi, dan epistemologi. Artinya segala pemikiran yang mendalam tentang Islam berangkat dari pertanyaan untuk apa?. Misalnya, Islam menganjurkan umat Islam untuk zakat, tentu pertanyaannya untuk apa zakat ditunaikan?. Demikian juga shalat, puasa, dan yang lainnya akan berangkat dari pertanyaan untuk apa itu semua.
Umat Islam pada umumnya memahami bahwa segala perintah dan larangan bersal dari Tuhan pencipta alam yang di dalamnya manusia. Perlu kita ketahui bahwa Allah yang menciptakan manusia, Allah pula yang membuat aturan hidup yang sesuai dengan kebutuhan manusia dilihat dari berbagai segi. Maka ketika umat Islam meneliti, atau berfilsafat dengan landasan filsafat Islam akan menemukan satu kekaguman pada perintah dan larangan Tuhan. Dengan demikian manusia (umat Islam) akan menyadari betapa pentingga segala perintah Allah dan larangannya diwujudkan, karena sesuai dengan kebutuhan manusia.
Seperti yang telah penulis singgung di atas objek filsafat Islam adalah semua yang terkait ke-Islaman, seperti masalah ke-Tuhanan yang sebut Theologi, masalah ibadah, muamalah dan masalah akhlak (tasawuf).
Theologi yang merupakan filsafat ke-Tuhanan berusaha untuk mengetahui Tuhan. Dari memahami Tuhan itu maka lahirlah berbagai aliran theologi; seperti khawarij, mu’tazilah, murji’ah, qadariah dan ahli sunah berjamaah. Semua aliran itu memiliki objek yang sama yaitu berusaha menjelaskan tentang Tuhan. Dalam memahami Tuhan filsafat islam tidak bertanya hakikat Tuhan, bagaimana Tuhan, tetapi lebih bertanya untuk apa ada Tuhan. Berbicara Tuhan tidak bisa dipisahkan dengan Nabi atau kenabian. Namun bukan bertanya hakikat Nabi, tetapi lebih menitik beratkan pada untuk apa Nabi?

Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas tentang filsafat Islam dapat penulis pahami, bahwa filsafat Islam bukan mencari bahan melainkan menangkap pesan yang tersembunyi di balik teks dan aspek-aspek agama.



Education Background
204 s/d 2008S.Th.IUniversitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2010 s/d 2012MA.HumSekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta


Teaching Experiences
Agama Islam, Universitas Gunadarma (2012-Sekarang)
Akhlak Tasawuf, Filsafat Pendidikan Islam, STAI Nida El-Adabi (2009 s/d 20010)
Filsafat Ilmu, Ilmu Kalam, Filsafat Umum, STAI Nida El-Adabi (2008 /s/d 2009)
Filsafat Islam, Bahsul Kutub, STAI Nida El-Adabi (2014/2015)
Kajian, Cipondoh Tangerang (Nopember)
Pendidikan Agama Islam, Ilmu Budaya Dasar, Universitas Gunadarma (2012 s/d 2013)
Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Pancasila, Universitas Gunadarma (2014/2015)
Pendidikan Agama Islam, Sosiologi & Politik, Universitas Gunadarma (2013 s/d 2014)
Tafsir Tarbawi, Tafsir Muamalah, STAI Nida El-Adabi (2011/2012)
Ulumul Hadis, Pemikiran Modern dalam Islam, UNIS Tangerang (20012 s/d 2013)